27 March 2011

Inilah Benih Keberhasilan kita

Salam Potensi Dahsyat,
Rekan Blogger yang di kasihi Tuhan, jangan pernah merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih dengan ketidaksempurnaan. Karena Tuhan, menciptakan kita penuh dengan keistimewaan. Dan karena Tuhan Allah menyiapkan kita menjadi mahluk dengan berbagai kelebihan.
Kita umpamakan seperti benih pohon yang menyimpan segalanya. Benih menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi pohon besar, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupa, ada "waktu dan proses" yang membuatnya terus bertumbuh.



Pandanglah pohon besar. Tahukah sahabat, bahwa batangnya yang kokoh dulunya berasal dari benih yang kecil? Dahan, ranting dan daunnya, juga berasal dari benih. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih kecil? Dan kalau kita menggali tanahnya, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama?
Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tak mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah saatnya berhasil? Kapankah saat itu akan datang?
Para Sahabat, kita adalah layaknya benih kecil. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar.Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam kita masing-masing.

Tain Odop, dalam karya, pemikiran dan keinginan berbagi dengan sahabat.

23 June 2010

Kenapa Takut? SAYA PUNYA POTENSI DAHSYAT

Banyak orang beranggapan bahwa ketidakberhasilan merupakan proses kehidupan yang
sebaiknya dihindari agar perjalanan menuju keberhasilan menjadi lebih mudah. Tetapi kenyataan
berkata sebaliknya, bahwa tiada keberhasilan hakiki tanpa sebuah ketidakberhasilan.
Dalam kontek ini, hidup merupakan sebuah perjalanan yang terdiri dari episode-episode
kegagalan dan keberhasilan, dua sisi kehidupan yang sesungguhnya mampu memberi warna pada
perjalanan hidup manusia.
KEGAGALAN, Kesalahan, Kekeliruan adalah persoalan hidup yang kerap kali menimpa
umat manusia sebagai bagian dari sisi lain proses menuju sukses. Jika melihat tapak demi tapak
kehidupan ini, rasanya sulit untuk mengatakan bahwa tiada satu kerikilpun yang tidak menjadi
sandungan dalam setiap langkah hidup. Ini sejatinya adalah bumbu hidup yang didalamnya
terkandung inti sari pelajaran menuju sebuah kemaslahatan yang bernama keberhasilan sejati.
Menapak puncak keberhasilan sama seperti mengetik kata demi kata dan menjadikannya
satu karangan yang bermanfaat. Dibutuhkan keberanian untuk memulai, hasrat yang kuat untuk
berbagi kebijaksanaan dan kepercayaan diri yang tinggi agar ada roh motivasinya dalam
karangan tersebut. Saya memandang ini sebagai proses kreatif menuju keberhasilan karena
dalam menyusun kata demi kata dalam buku ini dibutuhkan keberanian dan kepercayaan diri.
Tidak mudah bagi saya, karena di umur 26 tahun ini belum memiliki apa-apa secara
finansial. Namun, hasrat terbesar saya adalah ingin berbagi kebajikan hidup dan motivasi agar
kita bisa melihat proses hidup adalah proses gagal-sukses, proses bangkit kembali dari
keterpurukan, proses mengalahkan ketidakberanian, mengalahkan ketidakpercayaan diri dan
membangun mental positif yang amat baik untuk masa depan kita.
Saya bukanlah siapa-siapa, hanya seorang anak muda yang mencoba berkarya melalui
beberapa buku, ingin berbagi motivasi dan semangat karena insan manusia bukanlah robot yang
diprogram untuk selalu bersemangat dalam hidupnya. Manusia butuh amunisi, bahan bakar dan
pelumas berupa kiat-kiat maupun nasehat bijaksana pembangkit motivasi diri (self help).
Didalam buku ini saya menggabungkan dua hal besar yang bisa kita ambil sebagai
sebuah pelajaran kebijaksanaan. Bagian pertama membahas mengenai tema Kegagalan, dan
dibagian kedua adalah mengenai Kata-kata pembangkit jiwa. Buku ini tidak mendikte pembaca
untuk menjadi seperti apa, melainkan mencoba membagi sebuah suntikan motivasi pencerah diri
agar melihat persoalan hidup dengan bijaksana.
Salam,
-nistain odop-

08 June 2010

Catatan Editor


Setiap orang ingin berhasil mencapai cita-citanya. Sekecil apa pun hal yang diidam-idamkannya jika dapat diwujudkan maka kebahagiaan itu akan menyelimuti hati yang menggenggamnya. Oleh karena itu, orang akan berusaha mencapai atau meraih keinginannya dengan segala cara, upaya, dan mungkin sampai berkorban. Akan tetapi, dalam proses pencapaian cita-cita itu tidaklah selalu mudah. Faktor internal dan eksternal bisa jadi penghambat.
Manakala tidak kuat menghadapi atau mengatasi tantangan itu, orang bisa mengalami mental break down—patah semangat dan putus asa—yang berdampak negatif terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Karena kegagalan yang menimpa, orang pun merasa nasibnya malang. Jika orang sering mengalami kegagalan maka ketakutan dan khawatir itu lebih dominan bersemayam dalam diri sehingga orang kurang bersemangat untuk melakukan sesuatu untuk mengubah nasib.
Nasib bukanlah sesuatu yang permanen. Jika inovatif dan kreatif mengelola hambatan atau penghalang itu, sebetulnya orang justru dapat menjadikan kegagalan itu menjadi peluang untuk mencapai sukses. Hambatan yang menghalangi laju semangat bukanlah hantu yang menakutkan. Kita harus mengubah sesuatu dalam mindset agar kita selalu proaktif mengeksplorasi kelebihan dan kelemahan diri sendiri.
Setelah mengetahui kelemahan diri sendiri (faktor internal) berarti kita berpeluang untuk memperbaikinya bahkan bisa menjadikannya sebagai kesempatan untuk membangun suatu kekuatan baru agar sesuai dengan syarat yang dibutuhkan ketika hendak mencapai cita-cita atau keinginan itu.
Katakanlah Anda atau saya sangat ingin berprofesi sebagai wartawan yang bekerja di kantor perwakilan berita Reuter di Indonesia. Keinginan itu tidak mungkin kita wujudkan jika kita tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan pada profesi kewartawanan. Apakah saya atau Anda menguasai dan mampu menggunakan salah satu bahasa asing setidak-tidaknya bahasa Inggris? Bagaimana saya atau Anda menulis berita dalam bahasa Inggris jika tidak terampil menggunakan bahasa asing itu?
Pertanyaan masih berlanjut untuk kita jawab. Katakan Anda sudah mahir berbahasa Inggris dengan TOEFL >600, apakah itu sudah cukup? Kita harus memiliki pengetahuan dasar jurnalistik, dapat berkomunikasi dengan baik, dan selalu berminat mempelajari berbagai bidang.
Katakan Anda sudah menyandang S-1 Teknologi Pangan yang mungkinkan Anda akan ditugasi sebagai wartawan peliput industri makanan. Akan tetapi, suatu saat bisa saja Anda ditugaskan meliput bidang-bidang lain seperti hukum, olahraga, sosial, budaya, kehutanan, sastra, dan bahkan masalah kriminal. Sebagai wartawan, Anda harus mampu melakukannya.
Jangan heran, beberapa orang yang lulus dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi wartawan profesional yang sehari-hari meliput sektor perbankan dan pasar uang padahal bidang itu tidak pernah dipelajari khusus ketika masih kuliah.
Keahlian bidang pertanian tentu bermanfaat walau tidak digunakan secara langsung di lapangan. Simak apa hubungan latar belakang pendidikan dengan profesi yang sedang dijalankan melalui contoh ini: seorang wartawan meliput aksi unjuk rasa masyarakat terhadap sebuah perusahaan yang sudah go public. Pabrik pembuat garmen itu kurang memperhatikan pengolahan limbah sehingga sumber air di sekitar lingkungan pabrik terkontaminasi. Dampak negatif yang menimpa masyarakat bisa ditebak. Nah, kalau si wartawan tidak memiliki pengetahuan yang memadai, apa mungkin dia meliput peristiwa itu secara mendalam dan menarik?
Hambatan untuk mencapai cita-cita bisa disebabkan oleh faktor internal (diri sendiri) dan faktor eksternal. Oleh karena itu, seorang penulis bernama Zig Ziglar [1996] pernah mengatakan, bahwa orang yang sukses harus mempunyai program (tekad) yang terarah . Dia menetapkan jalurnya untuk diikuti dengan menyusun rencana dan melaksanakannya. Dia berupaya mengejar tujuan yang ditetapkan dalam programnya. Dia tahu ke mana dia ingin pergi, dan tahu bahwa dia akan sampai ke sana. Dia menyukai apa yang dilakukannya dan menyukai perjalanan yang membawanya ke tujuan yang hendak dicapainya. Dia penuh antusiasme dan semangat tinggi. Inilah orang yang sukses.
Jika Anda ingin menjadi pelaut yang bekerja di kapal pesiar internasional, ya Anda harus memiliki sertifikat. Katakan seseorang mempunyai diploma D-3 dari Akademi Pelayaran. Namun, jika dia adalah seorang yang mudah mabuk ketika berada di kapal yang sedang mengarungi samudra, bagaimana mungkin dia mewujudkan cita-citanya sebagai pelaut andal?
Apa pun cita-cita dan keinginan Anda sebaiknya catatlah dan bertekadlah (komit) untuk mencapai tujuan (cita-cita) itu. Urailah komitmen Anda itu pada tanggung jawab harian secara terinci dan kemudian urai lagi tujuan Anda itu menjadi bagian yang kecil-kecil agar mudah mencapainya tahap demi tahap, demikian Zig Ziglar.
Tindakan lain yang sebaiknya kita lakukan dalam mencapai cita-cita, bahwa Anda harus sehat secara fisik, mental, dan spiritual. Jadikan beban yang (mungkin) menimpa Anda sebagai aset, dan belajarlah bersabar menanggapi suatu kekecewaan yang pasti akan Anda alami. Anda harus mendisiplinkan diri, selalu bisa mengubahlah arah (bukan keputusan) agar Anda bisa beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi tanpa kita tahu sebelumnya.
Gambarkanlah dalam pikiran Anda, apa yang hendak dicapai. Jangan takut jika Anda menghadapi penghalang dan hambatan. Meski yang Anda pikirkan (cita-citakan) tidak selalu selaras dengan kenyataan, jangan menyerah untuk memastikan tekad bahwa Anda harus bertintak untuk mencapai keinginan Anda itu.

Depok, 13 Mei 2010


Rayendra L. Toruan
Editor

18 May 2010

Kemana Melangkah Jika Saya Gagal?


Rekan pengunjung blog yang berbahagia, beberapa waktu lalu sahabat kita mengirimkan email kepada saya, berikut isi emailnya yang mungkin akan bermanfaat juga bagi kita.

saya yang benama Riko (nama saya samarkan) berumur 25 tahun masih duduk di bangku kuliah, yang sebenarnya harus sudah selesai dan bekerja. Saya sangat terkesan dengan buku anda, ketika saya merasa gagal saya pasti baca buku anda sampai menemukan dimana kegagalan saya. Ketika saya baca buku anda saya menjadi semangat, tetapi ketika menutup buku anda, saya bertanya apa yang harus kerjakan sekarang?..

saya hidup seperti tidak mempunyai arah, ketika membaca lowongan pekerjaan semua maksimal berumur 23 dan ketika saya kelar kuliah saya berumur 26, saya merasa menyesal banget tidak naik kelas. apa yang harus saya lakukan, apakah ada kata terlambat? apakah anda percaya dengan keberuntungan?




Jawaban saya:

Dear Riko,

terima kasih telah ber-email dengan saya.
yang saya tangkap dari isi emailmu (jika tidak salah) adalah sedikit keputusasaan dan ketidakpercayaan diri. Sebetulnya hal ini lumrah menyerang kita, terutama bagi yang masa pendidikannya agak terlambat. Biasanya masa produktif sampai S1 adalah diumur 22-23 tahun, namun tentu saja persoalanmu menjadi agak pelik karena diumur 25 belum menyelesaikan pendidikanmu dibangku kuliah.
Dear Riko, sahabat dan rekan seperjuanganku, aku juga belum menyelesaikan pendidikan S1 hingga sekarang, umur sudah cukup tua :). Hanya saja aku melanjutkan dari D3-ku dulu dan sekarang kuliah sambil memulai bisnis jasa dibidang konstruksi bangunan dan menulis buku.

Well, pendidikan memang penting, ijazah juga amat penting, namun yang lebih penting adalah arah perjalanan kita ini mau dibawa kemana. Persoalan bahwa kita harus kelar kuliah diumur 23 tahun mungkin sudah tidak pas bagi kita (kamu dan aku). Persoalan bahwa melamar pekerjaan di umur 23 tahun buat kamu dan kebanyakan orang muda lainnya mungkin sudah lewat. Jadi, apa yang harus dilakukan?
Pertama, kamu harus menyelesaikan misi utama dulu. Dalam strategi perang sun tzu, kalahkan musuh utama terlebih dahulu jika ingin mengalahkan musuh-musuh yang lain. Misi utamamu adalah menyelesaikan pendidikan S1. ini penting, karena biar bagaimanapun di masa yang akan datang level sarjana akan menjadi status sosial seseorang. entah kita menempuhnya dengan waktu 4 tahun atau 10 tahun, dimasa yang akan datang itu tidak akan menjadi persoalan penting, yang penting kamu berhasil menjadi seorang sarjana.
Kedua, rencanakan langkah-langkah yang mesti kamu lakuin. Mulailah dari langkah kecil. menyusun kembali rencana jalan hidupmu. Jangan menganggap bahwa kita telah terlambat, tiada kata terlambat kecuali kita berhenti.
Ketiga, jika kita tidak memperoleh pekerjaan diperusahaan orang lain, mulailah dengan usaha sendiri. Membangun bisnis sendiri tidak membtuhkan persyaratan bahwa kamu mesti berumur dibawah 25 tahun bukan? Banyak pengusaha yang hanya lulus SMU namun mampu mempekerjakan profesional yang pendidikannya S1 bahkan S2.
Keempat, buku Gagal Itu Baik, 55 Wasiat Cinta dan Kehidupan, Jangan Menyerah dan buku saya yang lain, sifatnya hanya mendorong dan memberi pencerahan motivasi. Kamu sendirilah yang harus melangkah, yang harus bertindak. Tiada kata terlambat untuk memulai, bangunlah dan mulailah dari apa yang kamu bisa. Bergeraklah sekarang, jangan berpangku tangan. Tiada persoalan yang tanpa jalan keluar, tiada masalah yang tidak bisa diatasi selama kita berniat untuk bangkit.
Demikian dulu, selamat berjuang dan semoga segera menyelesaikan misi-misimu.
Salam, Tain Odop

14 April 2010

Belajar Dari Matahari

Matahari kita kenal sebagai sumber energi di bumi. Dengan energi matahari, tumbuhan hijau dapat melakukan fotosintesis yang kemudian hasilnya berupa oksigen dan dimanfaatkan makhluk lainnya sebagai sumber energi. Begitu dahsyatnya manfaat matahari sampai-sampai ibu yang menjemur pakaian terkadang mengumpat apabila sinar matahari tidak muncul.
Dari sudut pandang ilmu pengetahuan yang dikaitkan dengan galaksi semesta, panas
matahari begitu menakutkan. Jarak antara matahari dengan bumi memang sejauh 152 juta km,namun jarak itu telah mampu membuat sengatan yang kuat sehingga mahluk dimuka bumi ini memerlukan tempat untuk berteduh dan menghindar diri lansung dari sengatannya. Dengan jarak berjuta kilometer dari bumi saja, panas matahari mampu membuat manusia mengalami dehidrasi. Bahkan dimusim panas yang berkepanjangan, sengatan matahari bisa memusnahkan ekologi mahluk hidup bumi.
Begitu mematikannya sehingga pernahkah terbayang dalam benak kita untuk melihat
betapa mengerikannya jika pada suatu siklus pergeseran galaksi menempatkan matahari
berdekatan dengan bumi? Apa yang terjadi dengan mahluk bumi? Tentu saja pemusnahan
mahluk bumi secara masal. Jangankan manusia yang kulitnya gampang melepuh, pohon,
bangunan dan semua elemen bumi pastilah terbakar dan menjadi debu.
Menurut hasil penelitian, matahari yang terkesan angker itu ternyata hanyalah sebuah
bintang yang relative kecil dibandingkan dengan bintang-bintang raksasa yang beredar di galaksi Bimasakti. Namun, jika dibandingkan dengan ukuran bumi, maka besar matahari jauh lebih besar. Andaikan matahari dianggap setitik debu kecil saja di antara bintang-bintang di galaksi Bimasakti, maka apalah artinya Bumi ini. Andailah bumi di antara galaksi Bimasakti saja, hanyalah superdebu yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop, lalu dalam skala yang sama, bagaimana keberadaan fisik manusia? Ternyata manusia hanyalah super debu di antara galaksi Bimasakti yang luas ini, yang barangkali tidak teramati, lebih-lebih bila dibandingkan dengan alam semesta.
Begitu kecilnya manusia jika diperbandingkan dengan alam semesta menunjukkan bahwa
manusia adalah mahluk yang kerdil yang jika alam semesta tidak menghendaki, mereka bisa dimusnahkan. Masih adakah alasan bagi manusia untuk menyombongkan diri di dunia ini?
Manusia hanyalah setitik debu yang super kecil, yang menurut kepercayaan mereka berasal dari abu dan suatu saat akan kembali menjadi abu. Kekerdilan ini seharusnya tidak membuat manusia menjadi sombong dan serakah. Tidak membuat manusia ingin menguasai alam dan semena-mena memperlakukan alam.
Matahari adalah contoh penguasa bumi yang rendah hati. Dia memiliki kekuatan untuk
memusnahkan bumi dengan isinya, namun dia tidak melakukan itu. Disisi lain manusia dengan kekerdilannya berlaku sombong ingin menguasai bumi dengan isinya. Manusia merusak alam, melakukan ekspoloitasi yang tidak bertanggungjawab, menguras seisi bumi, memusnahkan mahluk lain dan berkata sombong bahwa merekalah penguasa bumi. Akibatnya apa yang kita lihat, bumi bergejolak. Bencana alam memusnahkan manusia, tsunami, banjir, letusan gunung merapi, kerusuhan, konflik dan peperangan. Rasa takut, kecurigaan, tiada kebebasan adalah deretan akibat yang ditimbulkan dari kesombongan dan keserakahan manusia tadi. Ulah-ulah yang najis itu memukul manusia sediri dan membuat mereka terhempas kedalam jurang penderitaan.

03 March 2010

Kiat Sukses Menulis Buku ala Safir Senduk

Menurut Safir Senduk -seorang perencana keuangan di negeri ini- Ada kiat-kiat supaya berhasil dalam menulis buku.
Pertama, jangan melulu berkutat di topik-topik yang sudah basi. Contoh: “Kalau Mau Kaya? Buka Usaha Dong…!”. Waduh, itu basi banget! Udah berulang-ulang kali dibahas orang. Lewatin saja topik begitu.
Kedua, sesuaikan gaya bahasa dengan pasar yang ingin dituju. Lha, kalau bukunya adalah buku populer, jangan pakai gaya bahasa yang teoritis. Nanti orang cepet ngantuk.
Ketiga, nggak usah terlalu tebal. Kalau bukunya buku populer, biasanya orang nggak begitu suka kalau tebal.
Keempat, minta testimoni untuk ditaruh di belakang buku. Cuma kalau pakai testimoni, kalau bukunya buku populer, nggak usahlah minta testimoni dari orang-orang yang buat sebagian orang ‘ketinggian’. Contoh, saya pernah melihat buku keuangan populer, tapi testimoninya dari orang DPR-lah, menteri inilah, rektor itulah, dan sebagainya. Ketinggian! Nanti orang takut untuk baca.
Kelima, jangan hanya kenalkan diri lewat buku. Miliki juga channel distribusi lain seperti menulis artikel di media massa. Miliki website, kalau perlu dengan nama domain sendiri. Miliki juga nama email dengan domain sendiri, bukan yang gratisan kayak yahoo atau hotmail.
Keenam, selalu konsisten pada tema penulisan yang sama. Kalau nulis tentang perencanaan keuangan, ya sudah nulis perencanaan keuangan aja. Supaya ntar orang gampang kenalnya.
Ketujuh, jangan malu-malu untuk menunjukkan diri. Banyak pengarang yang tidak suka menonjolkan dirinya, tapi lebih suka menonjolkan bukunya. Nggak apa-apa juga. Tapi nanti bukunya nggak akan selaku kalau ia juga mau menunjukkan diri secara personal.
Kedelapan, jalin hubungan baik dengan toko buku. Datang ke toko buku, kenalkan diri dengan Supervisor Penjualan. Jalin juga hubungan baik dengan Divisi Promosi di penerbit.
Sembilan, jangan sombong ketika bersosialisasi dengan orang lain. Ini mungkin klise. Tapi banyak orang yang tidak akan membeli buku kita kalau secara personal dia tidak suka dengan kita. Sayangnya, saya banyak melihat pengarang buku-buku keuangan populer dan wirausaha yang seringkali membuat gap sosial dengan orang lain. Mereka hanya mau bergaul dengan orang yang dia pikir selevel, seperti sesama pengarang, pejabat, dsb. Padahal, laku tidaknya buku kita, lebih banyak karena berasal dari mereka yang memang bukan punya profesi seperti kita.
Sepuluh, terus belajar, terutama dari orang-orang Indonesia sendiri. Tempat untuk belajar ada banyak sekali, salah satunya adalah di seminar. Tapi jangan salah, banyak pengarang buku keuangan populer dan wirausaha yang gengsi kalau hadir di seminar dengan pembicara orang Indonesia, tapi mau hadir kalau pembicaranya adalah orang asing, bahkan kalau nama orang asing itu belum pernah terdengar sebelumnya. Kita ini terlalu luar negeri minded. Apa-apa yang dari luar negeri itu dianggap baik. Padahal, kalau kita mau belajar dari sesama orang Indonesia, kita akan dapat ide-ide baru dan segar yang justru lebih membumi. Belajar juga dari milis-milis. Salah satunya adalah milis PenulisBestSeller@yahoogroups.com.

Penulis sukses adalah penulis yang bisa mengkomunikasikan ide-idenya kepada pembaca, dan pembaca bisa menerima ide-ide tersebut tanpa merasa dipengaruhi. Seorang penulis sukses saran saya sebaiknya tidak hanya menulis untuk branding. Tapi untuk idealisme. Penulis yang menulis dengan maksud untuk bisnis, menurut saya hanya akan terjebak pada persaingan yang tidak sehat dengan sesama penulis lain yang menulis topik yang sama. Tetapi, bila seorang penulis menulis untuk idealisme, untuk memberikan sesuatu berupa edukasi kepada pembaca, ini berarti dia sudah mencapai level tertinggi dalam menulis, yaitu memberikan sesuatu untuk masyarakat.

Pesan saya, kunci menulis itu sederhana saja: menulis, menulis, dan menulis lagi. Praktik, praktik, dan praktik lagi. Karena semua orang bisa menulis.(ez) dari pembelajar.com

25 January 2010

Makna Kegagalan Dalam Hidup Kita

Makna Kegagalan Dalam Hidup Kita


Dibeberapa buku seri Rich Dad, Kiyosaki mengungkapkan bahwa orang-orang disekeliling
kita bisa saja membunuh tujuan kita dan menciptakan diri kita gagal. Orang-orang negatif itu akan berkata:
"Kamu tidak bisa melakukannya"
"Itu terlalu beresiko"
"Tahukan Anda berapa banyak orang yang telah gagal?"
“Jangan bodoh" atau
"Saya telah mencobanya dan itu tidak bisa berjalan."

Sebagai manusia dengan habitus baru yang terus memperbaiki diri, citra diri, atau pencarian jati diri yang positif akan sangat menentukan seseorang dalam perjalanan hidupnya.
Kesuksesan dan kegagalan akan menghampiri manusia selama dia berkarya (baca bekerja), Selama seseorang masih punya cita-cita dan harapan, selama itu juga kegagalan akan selalu menghantui.
Membangun jati diri sama halnya dengan membangun rumah. Menciptakan jati diri butuh pondasi yang kuat, yang terencana, yang indah, yang berguna bagi orang-orang disekeliling kita.
Seperti halnya rumah yang perlu konstruksi kuat, perencanaan yang matang, pemilihan bahan bangunan yang bagus, dan dikerjakan secara maksimal, membangun jati diri juga demikian, butuh proses, butuh perjuangan keringat dan air mata, butuh kegagalan.
Jika kita ingin membangun jati diri yang kuat, bangunlah dari setiap kegagalan yang merasuki kita, bangunlah dari pergolakan jiwa yang kerdil dan mental yang negatif. Bangkitlah menjadi manusia baru yang memiliki habitus baru dalam memandang kehidupan.
Gagal adalah permainan hidup yang nyata. Jangan takut pada kegagalan karena kita punya potensi untuk bangkit kembali meraih keberhasilan dalam bidang apapun yang kita geluti.

"ketika membaca sejarah orang-orang besar, saya menemukan bahwa peperangan
pertama adalah perang terhadap diri sendiri." Demikian Harry S. Trauman berujar. Trauman
bukan satu-satunya orang besar yang berkata demikian, Sidharta Gautama juga dengan lugas berucap "lebih baik mengalahkan diri sendiri dari pada memenangkan seribu pertempuran. Dengan mengalahkan diri sendiri kemenangan adalah miliik kita sepenuhnya."

...
“Tetaplah berjalan maju dan menembak, dengan demikian Anda menambah rasa percaya
diri karena Anda sedang melakukan sesuatu. Anda tidak duduk seperti seekor bebek dalam bak mandi yang sedang siap dimusnahkan.” -George S. Patton
...

“Satu, dua, bahkan sampai tiga kesalahan fatal adalah bukti bahwa seseorang telah
berusaha melakukan sesuatu. Hanya saja seharusnya mereka sudah belajar dari kesalahankesalahan itu.”
...
“Kegagalan tidak berarti Anda tidak akan pernah berhasil, cobalah terus karena Anda
memang harus membayar prosesnya dalam waktu yang cukup lama.”


Sekian, terima kasih dan salam hangat

tain odop

06 January 2010

JANGAN GAMPANG MENYERAH





















JANGAN GAMPANG MENYERAH

Melangkahlah kemana angin perubahan membawamu

Berjalanlah denggan seluruh keyakinanmu

Berlarilah dengan segenap visimu

Berjuanglah dengan segenap komitmenmu

Tiada jalan yang terlalu lurus

Tiada tempat yang terlalu indah

Tiada penderitaan tanpa akhir

Tiada kesedihan tanpa ujung

Kehidupan mengajari manusia dengan jejak-jejak maknanya

Kehidupan memberi kesempatan mempelajari kesalahan

Kehidupan adalah anugerah bagi setiap insan.



24 November 2009

Makna Kejujuran Bagi Hidup Kita

Banyak diantara kita yang tidak berani memandang dirinya dicermin yang cukup besar. Ketika mereka bercermin, mereka hanya melihat tampak depan saja tanpa pernah membayangkan isi keseluruhan dari fisiknya. Entahlah apa yang mereka lihat ketika memandang casing tampak depan itu? Mungkinkah hanya sekedar bercermin, melihat penampilan dan menyisir rambutnya? Atau lebih dari itu? Sepertinya kita perlu merenungkan keberadaan kita per beberapa detik untuk menilai makna ketika kita didepan cermin.
Bicara tentang kehidupan, memang bicara mengenai masa sekarang, mengenai masa yang sedang dijalani saat ini. Tak peduli apapun yang telah terjadi itu semua nyata adanya, dan entah apakah itu sempurna atau tidak, setiap orang punya tolok ukurnya masing-masing. Jangan menoleh terlalu lama kebelakang ataupun terlalu memikirkan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Pikiran mengenai mobilitas hidup, persaingan dan kualitas telah mengarahkan perilaku manusia pada jalur yang serba cepat tanpa ruang bagi dirinya sendiri untuk berefleksi membaca pikiran nurani. Manusia tidak lagi menyadari esensi keberadaannya didunia ini, bahkan mengetahui warna pakaian yang sedang dipakainya pun tidak.
Duduklah di rerumputan atau di bawah sebuah pohon, merenung tentang jubah dan kebesaran pencipta jubah, merasakan putaran bumi, keagungan angkasa raya, dinginnya udara yang menerpa wajah adalah bagian dari pencarian kekayaan sejati. Dari pergumulan menuju suara batin itu, manusia akan melihat bahwa kaya raya dengan cinta adalah kekayaan terbesar dalam hidup.
Berkeheninglah, rasakan kehangatan sinar matahari pagi. Tersenyumlah pada langit yang luas, ucapkan salam pada lebah yang beterbangan dan semua binatang yang tertangkap sinar mentari. Berjalan-jalanlah di taman atau mendaki perbukitan. Kedekatan dengan alam dapat membawa kesadaran betapa hidup ini penuh makna. Manusia adalah bagian kecil dari jagat raya yang maha luas ini. Mobilitas dan kuatitas perjalanan hidup dewasa ini telah menghapus ruang jiwa manusia untuk menyatukannya dengan semesta bahwa jubah putih mereka adalah pembawa pesan kehidupan. Manusia berpikir mengenai kehidupan yang penuh dengan gejolak dan persaingan sehingga mereka tidak menyadari jubah putih kehidupan yang sedang dipakainya. Manusia terkadang terlena dengan apa yang dimilikinya sehingga dia ibarat terperangkap dalam sebuah topeng kehidupan yang indah namun penuh omong kosong.
Kenali dan sadari diri kita adalah pribadi yang luar biasa dan unik, yang menjadi salah satu bagian dari alam semesta ini, yang mencintai segala kejujuran dalam hidup. Lakukan meditasi, atau duduk tenang dikesunyian dan nikmati saat-saat itu. Baca buku-buku keagamaan atau panduan kepribadian yang membawa pesan positif dan membuat kita merasa kuat.
Jangan lupa bersyukur atas kehidupan, keluarga, kesehatan, orang-orang yang kita cintai, semua hal yang kita miliki, rumah, kendaraan, sahabat, orang-orang yang mencintai kita, serta kebahagiaan dan kegembiraan yang melingkupi hidup kita. Beri kesempatan pada diri kita untuk merasa rileks dan memanjakan diri. Ruang jiwa juga butuh keteduhan dan mereka perlu perhatian dari sang pemiliknya agar tidak telantar begitu saja. Cintai diri Anda dan gunakan kata-kata positif inspiratif untuk memberi dorongan. Bicaralah dengan penuh kasih dan ketulusan dari dasar hati karena itu semua merupakan kejujuran yang hakiki.

08 September 2009

12 Alasan Menulis



Berapa banyak alasan yang Anda perlukan untuk mulai menulis atau terus konsisten melahirkan karya tulis? Satu, dua, atau tiga alasan cukup? Kalau tidak cukup, saya sampaikan 12 alasan agar Anda benar-benar mantap untuk mulai menulis sampai “kecanduan”.

Caryn Mirriam Goldberg dalam karya berjudul Write Where You Are: How to Use Writing to Make Sense of Your Life, menawarkan 12 alasan mengapa Anda harus menulis, yakni :
1. Menulis membantu menemukan siapa dirimu.
2. Menulis dapat membantumu percaya diri dan meningkatkan kebanggaan.
3. Saat menulis, Anda mendengarkan pendapat unikmu sendiri.
4. Menulis menunjukkan apa yang dapat Anda berikan pada dunia.
5. Dengan menulis, Anda mencari jawaban terhadap pertanyaan dan menemukan pertanyaan baru untuk ditanyakan.
6. Menulis meningkatkan kreativitas.
7. Anda dapat berbagi dengan orang lain melalui kegiatan menulis.
8. Menulis memberimu tempat untuk melepaskan amarah/ketakutan, kesedihan, dan perasaan menyakitkan lainnya.
9. Anda dapat membantu menyembuhkan diri dengan menulis.
10. Menulis memberimu kesenangan dan cara mengungkapkannya.
11. Menulis membantumu lebih hidup.
12. Anda dapat menemukan impianmu melalui menulis.

Alasan yang ditawarkan Goldberg bisa Anda tambahkan dengan alasan-alasan orang sekaliber Guttenberg, Spielberg, Zuckerberg, Bloomberg, Iceberg, Ruttenberg, dan berg-berg yang lain hehehe.

Nah, kalau ada begitu banyak alasan untuk menulis namun Anda tetap tidak juga menulis, maka tinggal satu kata untuk itu: keterlaluan!


Ditulis oleh: Andrias Harefa, Penulis 35 Buku Best-Seller. www.andriasharefa.com

29 June 2009

EPISODE KEGAGALAN & KEBERHASILAN


Banyak orang beranggapan bahwa ketidakberhasilan merupakan proses kehidupan yang sebaiknya dihindari agar perjalanan menuju keberhasilan menjadi lebih mudah. Tetapi kenyataan berkata sebaliknya, bahwa tiada keberhasilan hakiki tanpa sebuah ketidakberhasilan.
Dalam kontek ini, hidup merupakan sebuah perjalanan yang terdiri dari episode-episode kegagalan dan keberhasilan, dua sisi kehidupan yang sesungguhnya mampu memberi warna pada perjalanan hidup manusia.
KEGAGALAN, Kesalahan, Kekeliruan adalah persoalan hidup yang kerap kali menimpa umat manusia sebagai bagian dari sisi lain proses sukses mereka. Jika melihat tapak demi tapak kehidupan kita, rasanya sulit untuk mengatakan bahwa tiada satu kerikilpun yang tidak menjadi sandungan dalam setiap langkah hidup. Ini sejatinya adalah bumbu hidup yang didalamnya terkandung inti sari pelajaran menuju sebuah kemaslahatan yang bernama keberhasilan sejati.
Setiap keberhasilan, kebahagiaan dan prestasi yang kita raih sesungguhnya merupakan satu puncak dari awal perjuangan dimana kita pertama kali memulainya. Sepertinya setiap insan akan melewati proses ini, walaupun tidak semuanya akan memikul beban yang sama. Satu beban berbeda dengan beban yang lain, dan begitulah adanya. Oleh karena itu semestinya kita bijaksana untuk melihat intisari pelajaran hidup dari episode kegagalan dan keberhasilan.
Dengan hikmah keduanya kita akan semakin dimatangkan untuk menjadi manusia yang berbesar hati, bijaksana dan ikhlas dalam menerima kegagalan dan ikhlas pula menyambut keberhasilan.

04 June 2009

Buku: 55 WASIAT CINTA DAN KEHIDUPAN




CATATAN EDITOR

Himpitan selalu menyapai dan membebani hidup tiap orang. Orang pun berusaha menghalau tekanan hidup itu dengan pelbagai cara misalnya dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat kita rasakan dari hasil kemajuan dan modernisasi yang dicapai. Modernisasi—di segala bidang—inilah yang menawarkan kemudahan kepada insani. Apakah kita menikmati kehidupan nyaman pada era modernisasi?
Mana kala manusia itu hidup dengan kemudahan-kemudahan yang kita rasakan dalam pelbagai bentuk seperti merasa nyaman, sejahtera, sehat, pandai, mudah mendapatkan keinginan, maka kita merasa bahagia dan senang. Akan tetapi, manusia tertadirkan bukan hanya hidup nyaman, bahagia, dan kesenangan-kesenangan dalam bentuk lain. Manusia juga tidak lepas dari penderitaan, sakit, sedih, susah, lapar, haus, kecewa, dan sebagainya.
Modernisasi dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih justru membuat kehidupan manusia lebih kompleks dan rumit yang berdampak negatif bagi manusia. Dampak negatif itu merupakan masalah yang apa bila antisipasti atau cara penyelesaiannya tidak sesuai atau tak berhasil—justru menambah persoalan baru. Kadar dan tingkat kompleksitas kehidupan yang dihadapi tiap manusia—di kota besar, desa, pantai, gunung, di lintas negara dan benua—berbeda-beda sesuai dengan lingkungan.
Orang pun berpacu dengan waktu untuk mencapai target sekaligus membebaskan diri dari himpitan hidup. Orang yang tergabung dalam suatu organisasi misalnya di perusahaan harus bekerja lebih keras agar mampu mencapai target yang ditentukan manajemen perusahaan. Segala daya dilakukan untuk mencapai tujuan.
Modernisasi pun seolah-olah menjadikan manusia sebagai fungsi dari waktu. Pencapaian angka maksimal (target) lebih mempesona daripada orang yang mencapai angka itu sendiri. Nilai luhur norma-norma kebersamaan sukar ditemukan di perusahaan atau organisasi yang selalu mematok pencapaian target secara mutlak.
Pemilik perusahaan atau organisasi seakan-akan menjadikan buruh sebagai alat produksi belaka. Apa bila pencapaian target terpenuhi, maka manajemen akan menghargainya melalui promosi jabatan atau menaikan jumlah take home pay yang bersangkutan. Namun, apa bila seseorang gagal merealisasikan targetnya maka dia terancam degradasi yang pada akhirnya menimbulkan suatu penderitaan.
Di lain pihak, seseorang yang sedang berkuasa/memimpin misalnya perusahaan, instansi pemerintah, organisasi politik, dan sebagainya, maka orang atau kelompok itu akan melakukan pelbagai upaya untuk mempertahakan posisinya. Lebih celaka lagi, jika kelompok masyaakat yang merasa lebih kuat dan mayoritas melakukan cara yang bertentangan dengan hati nurani dan kaidah umum untuk mencapai tujuan, namun mengabaikan hak-hak umum dan minoritas.
Tiap invidu yang ingin maju dan berkembang sebaiknya terus memberdayakan diri dengan berbagai cara misalnya mau mentransformasi diri. Penulis buku ini menawarkan gagasan sehingga pembaca mampu membangkitkan spirit, keberanian, nilai-nilai kehidupan, kata hati, suara batin, dan kejujuran dalam menjalankan hidup. Buku ini lebih banyak mengupas mengenai nilai-nilai hidup. Pembelajaran dari arti sesungguhnya hidup manusia, bahwa hidup ini harus menyeimbangkan antara keberhasilan duniawi dengan keberhasilan rohani.


Depok, 1 Mei 2009

Rayendra L. Toruan
Editor

23 May 2009

Tanya Jawab Kewirausahaan



Dari: Fidhien ACHMAD
Topik: PERSONAL
Kepada: NISTAINSODOP@YAHOO.COM
Tanggal: Kamis, 21 Mei, 2009, 11:15 PM

Selamat siang Nistains...Apa kabar ? Perkenalkan namaku Fidhien, aku sudah baca buku kamu dan aku salut orang semuda kamu bisa menulis buku yang cukup berbobot dan relevan dizaman ini.saat ini aku ingin membangun sebuah bisnis yang bisa bertahan di masa resesi ini,namun aku di penuhi rasa bimbang atas keputusan yang akan ku ambil.Dan aku ingin kamu memberiku advice dan dukungan agar aku semakin mantap dalam berkarya.Bisakah kita berteman Nistain ?


Jawaban saya:

Yth Fidhien Achmad,

saya juga salut dengan keputusanmu untuk membangun sebuah usaha. penting sekali bagi orang muda untuk mencoba dunia kewirausahaan apa lagi dimasa sekarang dimana karier konvensional tidak lagi cukup untuk menopang kebutuhan hidup seseorang. tuntutan ekonomi, gaya hidup, telah memaksa kita untuk memiliki cukup penghasilan dan hal itu sangat mungkin didapatkan dari berwirausaha.
Zaman sekarang juga membutuhkan banyak orang-orang kreatif seperti anda yang berani menempuh resiko untuk membuka usaha agar tersedia lapangan kerja yang cukup sehingga perekonomian kita bangkit kembali.

Menyoal advice bagi anda untuk membuka bisnis, saya sangat mendorong anda untuk segera terjun, jangan terlalu takut karena ketakutan itu bisa mengurungkan niat anda. seorang businessman adalah mereka yang bersedia menempuh resiko dan mau memulai dari bawah, tidak mudah gengsi dan fokus terhadap perkembangan usahanya.
Dalam perjalanan usaha anda mungkin akan menemui banyak kendala, namun kendala itulah yang harus anda atasi sehingga anda berhasil dikemudian hari.


Demikian dulu ya,
selamat berwirausaha..

20 April 2009

Menjadi Air dan Kayu


Hiduplah seperti kayu, bisa mengakar kuat kedalam bumi, kokoh terhadap terpaan angin dan badai, kuat terhadap hujan panas. Kayu tumbuh dari apa yag dipersembahkan kepadanya, maka makanan dari alam, minum minuman yang disediakan oleh alam. Kayu berkembang biak dan beranak pinak secara alami. Tumbuh dan berkembang menjadi besar, memberi kembali kepada bumi berupa kompos, melindungi tanah dari kekeringan dan menjaga ekosistem bumi agar terus terjaga. Kayu menjadi bagian ekosistem alam semesta yang amat penting bagi manusia. Dia menjaga kesegaran oksigen bagi seluruh mahluk bumi dan menjaga agar pemanasan global tidak segera menghancurkan manusia, kayu menyerap panas dan menentramkan lapisan ozon sehingga mahluk bumi masih bisa merasakan nyamannya hidup didunia yang segar ini.
Entah apa jadinya manusia didunia ini jika tanpa ada kayu yang menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Mungkinkah sejuk? Mungkinkah segar? Mungkinkah ada tempat beristirahat bagi manusia tanpa kayu? Mungkinkah ada industry tanpa kayu?
Kayu hidup secara alami, mengambil apa adanya dari alam dan kembali memberi kepada alam. Kayu tidak serakah, tidak egois dan tidak lupa diri. Ketika kemarau panjang kayu menyesuaikan diri dengan menggugurkan daun-daunnya agar persediaan air tanah tetap terjaga dan kayu bisa bertahan hidup. Ketika musim hujan dan angin topan bertiup menggoncang dan coba mematahkan kayu, kayu menyesuaikan diri dengan sikap elastisitas yang tinggi. Ditiup oleh angin dia bergoyang, akar-akarnya mencengkram amat kokoh sehingga dia tetap tegak berdiri. Kayu memberi inspirasi bagi kita untuk mampu bertahan dalam setiap perubahan.
Hidup jugalah seperti air, bisa mengalir mengikuti caranya sendiri. Meskipun melewati batu air bisa menyesuaikan diri. Saat terperangkap, air membuat jalan baru didataran rendah maupun tinggi. Air dibutuhkan semua mahluk, ia sumber kehidupan, sumber penyejuk. Air begitu jernih, kuat terhadap panas, tahan terhadap dingin. Takkala melawan panas ia menguap, berubah, dan bahkan menjadi awan. Pada saatnya ia kembali menjadi air dalam bentuk rintik hujan yang menyirami bumi.
Air tahan terhadap suhu dingin, menguap menjadi embun, membeku menjadi es dan kembali mencair menjadi air takkala dia dipanaskan. Air tidak pernah kehilangan sifat aslinya, lembut, kuat dan tetap menjadi air yang memenuhi dahaga semua mahluk.
Air amat bernilai, mampu menyesuaikan diri dalam setiap perubahan. Memberi tubuhnya yang dibutuhkan oleh mahluk bumi dan tidak meminta apapun baginya. Air menjadi bagian teramat penting bagi keberlangsungan hidup mahluk bumi terlebih manusia. Walaupun air amat dibutuhkan dia tidak egosi, tidak serakah dan tidak meminta apa-apa dari mahluk yang mengambilnya.
Bisakah manusia mengambil intisari dari pelajaran dan makna kebesaran air dan kayu? Bisakah manusia berbesar hati seperti kayu dan air? Belajar tentang memberi? Belajar tentang penyesuaian diri dalam perubahan?
Kayu dan air adalah dua jenis ekosistem bumi yang berbeda. Keduanya memiliki karakter yang bertolak belakang namun sama-sama dibutuhkan oleh semesta. Keduanya menerima apa adanya dari alam, memberi kembali untuk alam dan bertumbuh. Air mungkin tidak bertumbuh namun jumlahnya amat besar sementara kayu bertumbuh dan bisa punah. Namun keduanya memiliki satu sifat yang luar biasa yakni mampu menyesuaikan diri dalam setiap perubahan, menyiasati perubahan dan tetap bertahan dalam perubahan. Bisakah manusia belajar dari keduanya sehingga siap menerima perubahan dan menyesuaikan diri? Semoga…

16 April 2009

Bijaksana, Ulet Dan Tekun Dalam Setiap Cobaan

Seandainya kita berani mencoba dan kita lebih tekun dan ulet, maka pasti yang namanya kegagalan itu tak akan pernah ada.


Semestinya kita melihat perjalanan hidup ini sebagai sebuah tantangan yang memang harus kita hadapi sehingga pada waktu tertentu kita mampu menaklukkan tantangan itu. Tantangan yang kita hadapi dalam setiap langkah merupakan cobaan dan ujian untuk melihat sejauh mana kita siap untuk masuk dan mengatasinya. Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan manusia, karena setiap insan dibekali cara untuk mengatasinya. Percaya atau tidak, persoalan apapun yang dihadapi tentulah ada jalan keluarnya. Jika kita cukup berbesar hati dan melihat permasalah dengan jernih, maka titik terang dari kemelut yang terjadi akan menemukan jalan keluar.

Kalau kita mau sedikit memberi ruang kebijaksanaan pada perjalanan dan proses hidup, kesalahan dan kegagalan bukan merupakan kesalahan fatal, semua itu adalah proses yang memang harus kiita hadapi. Masalahnya adalah, kita menutup pintu bijak dan mengatakan bahwa kegagalan merupakan kesalahan yang teramat fatal.

Baik dalam bidang ekonomi, politik, kehidupan sosial, rumah tangga dan karier, yang namanya uujian itu akan selalu ada. Entah itu dalam skala kecil maupun dalam skala besar. Hidup ini merupakan dinamika dan perputaran antara keberhasilan dan ketidakberhasilan, antara prestasi dan pelajaran. Ingatlah bahwa kita akan benar-benar gagal jika tidak melihat kesalahan masa lalu sebagai sebuah pelajaran. Dan kita akan gagal total jika tidak mampu melanjutkan langkah yang telah kita tempuh dari tapak-tapak kecil yang kita mulai sejak awal. Kita perlu mengedepankan sikap berani mencoba dan melihat proses sebagai sebuah jalur yang harus ditempuh. Ini penting untuk menguji sejauh mana kita mampu menguasai medan dan tangguh dilapangan.

Banyak sekali nasehat yang kita dengarkan sepanjang hidup ini, baik berupa nasehat yang bijak maupun nasehat yang kotor. Nasehat-nasehat itu tentulah amat berguna jika kita saring dan kita ambil yang baik sesuai dengan suara nurani. Pesan moral, dorongan dan semangat yang biasanya dipesankan kepada kita merupakan butir intisari kehidupan yang amat berguna. Entah sejauh mana kita akan memanfaatkan kebijaksanaan itu kembali kepada kita lagi.

Hidup yang berhasil bisa diraih dengan cara apapun, entah dengan cara kotor atau dengan cara bersih. Yang amat kita yakini adalah bahwa langkah-langkah yang ditempuh dalam meraih kehidupan yang berhasil tersebut selalu memberi efek yang setara. Jika kita menempuh jalur hidup dengan cara-cara kotor seperti korupsi, merampok, mencuri, menjual dengan cara-cara kotor tentu saja akibatnya juga akan kita peroleh. Dan jika kita bermain dengan cara yang bersih dan terpuji, niscaya kehidupan yang bersih dan terpuji juga akan kita dapatkan. Orang bisa berkoar-koar tentang kesuksesan dan kejayaan yang mereka raih dengan cepat dan mudah, namun dibalik itu bisa saja mereka menggunakan jalan yang tidak halal.

Nikmatilah setiap perjalanan itu, setiap proses yang terjadi merupakan intisari pembelajaran hidup yang amat berharga. Hargailah prosesnya, bijaksanalah dalam setiap persoalan dan tekunlah menapaknya. Sesulit apapun kelihatannya, keuletan seseorang merupakan jawaban untuk dapat keluar dan menjadi pemenang sejati.

Salah satu kata kunci dari sebuah keberhasilan adalah karena keuletan dan kesabaran dalam menapaknya. Dalam bisnis, politik dan kehidupan sosial bermasyarakat, proses itu terjadi dari hari kehari. Proses menuju pendewasaan itu seolah tanpa batas. Dia menyentuh dari berbagai sisi dan menyentil kita agar tahu sebaiknya bagaimana bersikap.

Seberapa besar rejeki yang kita raih sama dengan seberapa ulet dan bijaknya kita melihat proses dalam kegagalan dan keberhasilan.